Sejarah

Pura Purusada

Pura Purusada merupakan salah satu Pura tertua yang ada di Bali. Jika melihat lebih jauh, eksistensi nama Purusada tercatat sudah berdiri pada zaman kedewatan atau  Mengutip dari Buku “Purana Pura Kahyangan Jagat Purusadal” oleh Kabupaten Badung, salah satu sumber tertulis yang berkenaan dengan adanya Pura Purusada adalah lontar Kuntara Purana Bangsul dijelaskan bahwa :

“titanen duk masaning kadeawatan, hana Penagareng Purusadha ng. Ing Kana Kraton nire Sri Maha Raja Sek Sukaranti, kang Maharaja Ika wit sakeng warih ira Bhatara Surya (Sanghyang Surya Radtya) sira aprameswari lawan Sanghyang Ulan, sira juga kang ingaranang Sanghyang Ratih, ng. Duking mangkane Sira Sanghyang Surya lawan Sanghyang Ratih ngewetu aken sadiri kang, ng. Shri Aji Maharaja Purusadha .
Artinya :
dikisahkan pada zaman kedewatan (zaman prasejarah, ada suatu negara yang bernama Purusadha, yang merupakan kraton dari Sri Maharaja Sek Sukaranti, asal usul raja tersebut adalah dari keturunan bhatara Surya (Sang Yang Surya Raditya) beliau menikah dengan Sanghyang Ulan, beliau juga dinamakan Sanghyang Ratih, yang pernikahannya Sangyang Surya dengan Sanghyang ratih (sanghyang ulan) menurunkan seorang putra bernama Shri Maharaja Purusadha
Dalam Lontar Kuntara Purana Bangsul disebutkan nama dari Purusadha sudah ada pada zaman kedewatan. Yang dimana ada sebuah negeri yang bernama Purusadha, yang dipimpin oleh Shri Maharaja Sek Sukaranti. Beliau merupakan cucu dari Shri Maharaja Purusadha, beliau mempunyai dua putra yaitu Shri Nuk Rawa dan Shri Nuk Wasininda. Dikisahkan beliau Shri Maharaja Sek Sukaranti yang diiringi oleh para prajuritnya sebanyak 8000 orang dari negeri Purusadha, pada suatu ketika beliau bersabda kepada patih beliau Ki Demang Copong, agar mendampingi Shri Maharaja Jayeng Rat dan istrinya Dewi Manik Galih.  Tatkala Shri Maharaja Jayeng Rat bersama istrinya di sebuah taman, Shri Majaraja Jayeng Rat berkeinginan untuk kembali ke alam niskala/moksa menuju Swagra Loka. Setelah Shri Maharaja Jayeng Rat kembali ke Swarga Loka, munculah keinginan Ki Patih Demang Copong terhadap Dewi Manik Galih. Mengetahui keinginan dari Ki Patih Demang Copong, Dewi Manik Galih memutuskan untuk mengikuti suaminya kembali ke Swarga Anglayang dengan jalan masatya gni (menceburkan diri ke dalam api suci)

Penamaan "Kahyangan Purusada"

Dikisahkan beliau Dewi Manik Galih melaksanakan upacara masatya gni yang ditonton oleh masyarakat, akhirnya beliau mendekati api suci dan berdiri didekat api suci tersebut lalu menceburkan diri kedalam api, beliaupun dibakar oleh api tanpa sedikitpun tersisa tulang belulangnya.

Pada keramaian di tempat masatya gni itu akhirnya datanglah Shri Majaraja Sek Sukaranti dari negeri Purusada, beliau melihat secara langsung banyaknya masyarakat yang mendekat pada abu bekas masatya gni. Setelah api suci itu padam yang dilihat secara langsung oleh Shri Maharaja Sek Sukaranti, beliau akhirnya berkata bahwa apa yang terjadi saat ini adalah kehendak dari Bhatara Guru yang berkahyangan di Gunung Hyang di negeri Jambu Dwipa/ Giri Mahameru/HimalayaSetelah kejadian tersebut akhirnya beliau Shri Maharaja Sek Sukaranti menitahkan para prajuritnya untuk membuat “Togog” yang nantinya akan ditanam pada sebuah candi.
Dikisahkan setelah Dewi Manik Galih tinggal di Wishnu Loka beliau bergelar Bhatari Shri Murti, namum setelah itu ada sabda dari Bhatara Guru/ Sanghyang Siwa Natha/ Tuhan Yang Maha Esa, Bhatari Shri Murti dititahkan untuk turun lagi ke dunia sebagai dewa bhumi serta memberikan/sebagai sumber kehidupan bagi semua mahluk ciptaan di dunia sampai kelak nanti. Sabda Bhatara Guru juga didengar oleh beliau Shri Maharaja Sek Sukaranti hingga beliau teringat akan abunya Dewi Manik Galih serta bergegas menuju tempat Dewi Manik Galih masatya gni.
Setelah tiba disana segera beliau mengambil abunya Dewi Manik Galih yang dibersihkan dengan air suci semerbak baunya, diupacarai oleh beliau, upacara itu dikenal dengan nama Asti Wedhana sedangkan asti Dewi Manik Galih dikenal dengan nama Melebu Rau. Setelah upacara Asti Wedhana selesai, maka asti Dewi Manik Galih dihanyutkan ke tengah lautan. Itulah  sebabnya beliau Shri Maharaja Sek Sukaranti menitahkan para mantri dan hulubalangnya sekalian termasuk Patih Ki Demang dan Tumenggungnya untuk membuat perahu. Dalam perjalanan mengarungi lautan ada pesan beliau Shri Maharaja Sek Sukaranti berpesan agar laki-laki dan perempuan tidak diperbolehkan untuk bersenggama dan tidak boleh bersenda gurau.
Dikisahkan setelah perahu itu tiba di tengah lautan, segera beliau Sanghyang Smara dan Sanghyang Ratih masuk kedalam hati sanubari yang ada diperahu itu, menyebabkan para pengiring itu dirasuki api asmara sampai akhirnya melakukan tindakan bersenggama yang memang sebelumnya dilarang oleh Shri Maharaja Sek Sukaranti. Karena pesan beliau dilanggar itu menyebabkan perahu itu tenggelam, orang-orang yang ada diperahu pikirannya sangat bingung, namum seketika ada hujan bunga dengan bau yang sangat haru, semerbak turun dari langit. Pada saat itu terdengar adanya sabdha/suara angawang-awang yang didengar oleh semua orang yang di perahu. “Hai kalian manusia sekalian, kalian tidak bisa mengadakan pelayaran lebih jauh karena sekarang aku sedang membuat sebuah pulau yang nantinya akan digunakan sebagai sthana Hyang Dewi Manik Galih yang akan bergelar Bhatara Shri Murti”.
Setelah sekian lama tanah itu menjadi kental yaitu pada tempat perahu itu karam, maka wilayah itu dinamai “Gelgel Jagat Kapal” atau desa Kapal yang sekarang dikenal. Dalam pada itu beliau Sanghyang Pasupati/Sanghyang Siwanatha menyabdhakan bhisama agar bhumi yang baru kental ini dinamai Banoa Bangsul atau sekarang dikenal dengan Pulau Bali. Selanjutnya beliau Shri Maharaja Sek Sukaranti memeriksa perahu dengan seksama dan teringat beliau membawa togog yang dibuat dahulu yang akan ditanam/dipendam pada tempat itu, karena ada sebuah sabdha dari Hyang Bhatara Guru bahwa tempat itu sebagai sthna Sanghyang Dewi Manik Galih. pada tempat karamnya perahu beliau Shri Maharaja Sek Sukaranti bersama para pengiringnya membuat Candi sebagai sthana Sanghyang Siwa Guru, berukuran sangat besar serta didalam candi itu dipendamlah togog yang dibawa dari negeri Purusada. Beliau Dewi Manik Galih beliau sebagai sumber penghidupan manusia di pulau Bali, beliau dibuatkan sthana lingga disebelah utaranya Candi bersama dengan Bhatara Sakti Jayeng Rat. Candi itu dibangun oleh Shri Majaraja Sek Sukaranti yang menguasai negeri Purusada yiatu tepatnya di Gowan negeri Cina, maka tempat itu dinamai Kahyangan Purusadha, atau yang sekarang dikenal dengan nama Pura Purusadha.

Perkembangan Pura Purusada

Pura Purusada dibentuk dan  dibangun seperti sekarang itu merupakan peninggalan pada masa Pemerintahan Srijaya Sakti di Bali, itu pada zaman Bali kuno sebelum dinasti Sri Aji Jaya Pangus berkuasa di Bali. Secara sejarah Pura Purusada merupakan peninggalan raja Srijaya Sakti di Bali, namun bentuk-bentuk bangunan agak mirip dengan di Jawa Timur karena pengaruh restorasi tahun 1949 oleh Tuan Krisman. Pura Purusada coraknya menggunakan corak Jawa Tengah yaitu Candi Prambanan, Candi induk dikelilingi oleh prawara kecil yang ada disekitarnya. Itulah sebabnya di Pura Purusada ini ada Candi induk dikitari atau dikelilingi oleh pelinggihan yang ada disekitarnya, karena merupakan konsep dari Jawa Tengah yang menganut paham Siwa Budha. 

Terbukti dipura Purusada terdapat patung Siwa dan juga ada patung Budha serta Stupa-stupa, yang dimana ini menguatkan bahwa pura Purusada itu merupakan sinkronisasi dari ajaran Siwa Budha di Bali dalam konsep Budha Mahayana. Pura Sada banyak bertebaran diluar Desa Adat Kapal yang dimana Pura Purusada sendiri merupakan induk atau inti dari pura Sada yang lainnya, terbukti dari pada saat piodalan di pura Sada yang ada diluar desa Adat Kapal semuanya nunas tirta atau air suci di pura Purusada. Beberapa pura Purasada yang tersebar yaitu berada di Kampial, Kuta, Abiansemal, Pacung Blakiuh, Tegal Lantang Ubud, Banjar Sengguang Gianyar, Pejaten, Kerambitan, Slingsing serta ada di Sulawesi yang dibangun pada tahun 2019 yaitu di tanah Manado

Perbaikan atau Restorasi di Pura Purusada

Pura Purusada sempat beberapa kali dilakukan restorasi yaitu antara abad ke 14, abad ke 17, Tahun 1949, Tahun 2016, Tahun 2021. Pada abad ke 14 restorasi dilakukan pada masa Pemerintahan Dalem Bali Mula atau Asta Sura Ratna Bumi Banten yang mendapatkan perbaikan besar yang dimana perbaikan ini dipercayakan kepada Ki Kebo Taruna atau Ki Kebo Iwa yang dimana beliau merupakan patih dari raja Asta Sura Ratna Bumi Banten

Pada Abad ke 17 pura Purusada juga sempat diperbaiki oleh Kerajaan Mengwi  yaitu oleh Raja Pertama Mengwi yang bernama I Gusti Agung Putu karena pada saat itu Desa Kapal merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Mengwi dan Pemugaran dilakukan untuk menghormati leluhur beliau yang merupakan orang dari desa Kapal serta memperkuat simbol kerajaan

Pada Tahun 2016 juga pura Purusada Sempat mendapatkan restorasi pada Candi Bentar karena itu tersambar petir, yang dimana itu ditangani oleh pemerintahan kabupaten Badung serta pengempon pura Purusada. Pada tahun 2021 juga Prasada atau Candi pura Purusada direstorasi yang dimana bagian depan candi diperbaiki

Video Mengenai Pura Purusada