Sejarah
Pura Purusada
Pura Purusada merupakan salah satu Pura tertua yang ada di Bali. Jika melihat lebih jauh, eksistensi nama Purusada tercatat sudah berdiri pada zaman kedewatan atau Mengutip dari Buku “Purana Pura Kahyangan Jagat Purusadal” oleh Kabupaten Badung, salah satu sumber tertulis yang berkenaan dengan adanya Pura Purusada adalah lontar Kuntara Purana Bangsul dijelaskan bahwa :
Penamaan "Kahyangan Purusada"
Dikisahkan beliau Dewi Manik Galih melaksanakan upacara masatya gni yang ditonton oleh masyarakat, akhirnya beliau mendekati api suci dan berdiri didekat api suci tersebut lalu menceburkan diri kedalam api, beliaupun dibakar oleh api tanpa sedikitpun tersisa tulang belulangnya.
Perkembangan Pura Purusada
Pura Purusada dibentuk dan dibangun seperti sekarang itu merupakan peninggalan pada masa Pemerintahan Srijaya Sakti di Bali, itu pada zaman Bali kuno sebelum dinasti Sri Aji Jaya Pangus berkuasa di Bali. Secara sejarah Pura Purusada merupakan peninggalan raja Srijaya Sakti di Bali, namun bentuk-bentuk bangunan agak mirip dengan di Jawa Timur karena pengaruh restorasi tahun 1949 oleh Tuan Krisman. Pura Purusada coraknya menggunakan corak Jawa Tengah yaitu Candi Prambanan, Candi induk dikelilingi oleh prawara kecil yang ada disekitarnya. Itulah sebabnya di Pura Purusada ini ada Candi induk dikitari atau dikelilingi oleh pelinggihan yang ada disekitarnya, karena merupakan konsep dari Jawa Tengah yang menganut paham Siwa Budha.
Perbaikan atau Restorasi di Pura Purusada
Pada Abad ke 17 pura Purusada juga sempat diperbaiki oleh Kerajaan Mengwi yaitu oleh Raja Pertama Mengwi yang bernama I Gusti Agung Putu karena pada saat itu Desa Kapal merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Mengwi dan Pemugaran dilakukan untuk menghormati leluhur beliau yang merupakan orang dari desa Kapal serta memperkuat simbol kerajaan